Contoh Ijarah Muntahiya Bittamlik dalam Kehidupan Sehari-Hari

Contoh Ijarah Muntahiya Bittamlik dalam Kehidupan Sehari-Hari

Contoh Ijarah Muntahiya Bittamlik dalam kehidupan sehari-hari
sering kali lewat di depan mata kita tanpa disadari, padahal solusinya sangat membantu ekonomi keluarga. Pernahkah Bapak/Ibu merasa ragu ingin memiliki aset—seperti rumah atau kendaraan—tapi takut terjerat riba yang mencekik? Atau mungkin, Bapak/Ibu sekadar ingin menyewa dulu, baru memilikinya nanti saat dana sudah cukup? Nah, di sinilah konsep "sewa yang berakhir dengan kepemilikan" ini hadir sebagai angin segar. Artikel ini akan mengupas tuntas, lugas, dan membedah contoh Ijarah Muntahiya Bittamlik dalam kehidupan sehari-hari.

Memahami Konsep Ijarah Muntahiya Bittamlik (IMBT) Secara Sederhana

Namanya memang panjang. Lidah kita mungkin agak kaku menyebutnya. Ijarah Muntahiya Bittamlik. Tapi, mari kita buat sederhana saja. Bayangkan sebuah jembatan.

Bapak/Ibu berdiri di satu sisi (sebagai penyewa), dan di seberang sana ada aset impian (rumah atau mobil). Jembatan itu adalah masa sewa. Bapak/Ibu berjalan melintasinya dengan membayar "tiket" (uang sewa) setiap bulan. Begitu sampai di ujung jembatan, penjaga gerbang memberikan kunci aset tersebut. "Ini milikmu sekarang," katanya. Selesai. Itulah esensinya.

Pengertian IMBT Menurut Syariah

Secara harfiah, Ijarah berarti sewa-menyewa. Muntahiya artinya berakhir. Bittamlik bermakna dengan kepemilikan. Jadi, ini adalah akad sewa-menyewa antara pemilik aset (biasanya bank syariah atau lembaga leasing syariah) dengan penyewa (Bapak/Ibu), di mana ada janji (wa'ad) di awal bahwa aset tersebut akan dipindahkan kepemilikannya kepada penyewa di akhir periode.

Ingat ya, Bapak/Ibu. Kuncinya ada pada dua akad yang terpisah. Sewa dulu. Baru pindah milik. Tidak boleh dicampur aduk seperti gado-gado.

Perbedaan Ijarah, IMBT, dan Murabahah

Sering kali kita bingung. "Lho, apa bedanya sama kredit biasa atau Murabahah?"

Beda sekali. Ibarat naik taksi versus beli mobil kredit. Kalau Murabahah, itu jual beli. Sejak awal, barang itu milik Bapak/Ibu, tapi Bapak/Ibu berutang uang. Kalau IMBT, barang itu masih milik bank/lembaga. Bapak/Ibu cuma penyewa. Statusnya berubah nanti di ujung jalan.

Contoh perbandingan kasus di lapangan

  • Murabahah: Bank beli mobil 200 juta, jual ke Bapak 250 juta. Bapak nyicil utang 250 juta itu. Mobil langsung atas nama Bapak (biasanya dibebani hak tanggungan).
  • IMBT: Bank beli mobil 200 juta. Bank sewakan ke Bapak 3 juta per bulan selama 5 tahun. Di bulan terakhir, bank bilang: "Sudah, mobil ini saya hibahkan ke Bapak."

Terlihat bedanya? Sangat halus, tapi dampaknya besar di hukum agama dan hukum positif.

Tujuan dan Hikmah Akad IMBT untuk Bapak/Ibu

Kenapa harus ribet pakai sewa-beli? Kenapa tidak langsung beli saja? Ha ha ha, pertanyaan bagus. Terkadang arus kas (cashflow) usaha kita tidak memungkinkan untuk langsung menanggung utang besar di neraca.

Dengan IMBT, pembayaran terasa seperti biaya operasional bulanan. Ringan. Tidak membebani pikiran. Hikmahnya, Bapak/Ibu terhindar dari kepemilikan semu. Kita diajarkan untuk sabar. Nikmati manfaatnya dulu, kepemilikan menyusul kemudian.

Contoh IMBT dalam Kehidupan Sehari-Hari (Paling Relevan & Aktual)

Teori tanpa praktik itu seperti sayur tanpa garam. Hambar. Mari kita lihat bagaimana skema ini bekerja di sekitar kita. Mungkin tetangga sebelah rumah Bapak/Ibu sudah mempraktikkannya.

Sewa Motor atau Mobil yang Berujung Kepemilikan

Ini yang paling sering terjadi. Banyak lembaga pembiayaan syariah menawarkan skema ini untuk kendaraan.

Kisah Bapak Hasan (UMKM) yang akhirnya punya motor sendiri

Pak Hasan adalah kurir paket lepas. Dia butuh motor tangguh, tapi uangnya pas-pasan. Kalau kredit konvensional, dia takut riba bunganya. Akhirnya, dia datang ke BMT (Baitul Maal wat Tamwil) setempat.

Mereka sepakat pakai akad IMBT. BMT membeli motor matic besar. Pak Hasan menyewanya Rp800.000 per bulan selama 2 tahun. Di bulan ke-24, Pak Hasan membayar sisa nilai buku aset yang sangat kecil, dan BPKB pun berpindah tangan. Pak Hasan senang, hatinya tenang, motor jadi miliknya tanpa drama denda berbunga-bunga.

Sewa Mesin Produksi untuk Usaha Kecil

Bagi Bapak/Ibu pemilik usaha rumahan, membeli mesin mahal itu menakutkan. "Nanti kalau usaha bangkrut gimana? Mesinnya mubazir dong?"

Contoh kasus: mesin penggiling bakso, mesin kopi, freezer UMKM

Bayangkan Ibu Siti, penjual bakso. Dia butuh mesin giling daging seharga Rp15 juta. Dia menggunakan skema IMBT. Dia menyewa mesin itu dari koperasi syariah. Jika di tengah jalan usahanya macet (amit-amit), dia bisa saja menghentikan sewa (dengan ketentuan yang disepakati). Tapi karena usahanya lancar, setelah 3 tahun menyewa, mesin itu dihibahkan koperasi kepadanya. Sekarang, aset usahanya bertambah.

Pembiayaan Rumah dengan Skema Syariah IMBT

KPR Syariah itu tidak melulu Murabahah (jual beli). Ada opsi IMBT yang sering kali cicilannya lebih fleksibel mengikuti harga sewa pasar.

Kenapa IMBT lebih ringan bagi keluarga muda

Keluarga muda sering kali punya uang muka (DP) yang cekak. Beberapa bank syariah menawarkan IMBT untuk rumah karena bank masih memegang kepemilikan penuh sampai akhir, sehingga risikonya bagi bank lebih terukur. Bagi keluarga muda, ini artinya kesempatan punya rumah lebih terbuka lebar meskipun DP tidak sebesar gunung.

Sewa Peralatan Elektronik (Laptop/Printer) hingga Jadi Milik

Zaman sekarang, kerja tanpa laptop itu mustahil. Bagi pekerja lepas atau freelancer, laptop adalah nyawa.

Contoh penggunaan di kantor dan mahasiswa

Sebuah perusahaan start-up menyewa 10 laptop spesifikasi tinggi untuk desain grafis melalui vendor syariah. Mereka tidak mau beli tunai karena mengganggu cashflow. Mereka bayar sewa bulanan. Setelah kontrak 2 tahun selesai, laptop-laptop itu dibeli dengan harga "sisa" yang sangat murah. Kantor punya aset, kerjaan lancar, dompet aman.

IMBT pada Aset Pertanian

Petani juga bisa naik kelas.

Alat panen, traktor mini, dan mesin penyemprot

Traktor itu mahal, Pak. Puluhan juta. Kelompok tani bisa mengajukan IMBT. Sewa traktor tiap musim panen/tanam. Lama-lama traktor itu jadi inventaris kelompok. Gotong royong yang syariah.

Bagaimana IMBT Bekerja dari Awal sampai Akhir

Bapak/Ibu jangan sampai tanda tangan buta. Pahami alurnya. Jangan sampai nanti bengong di tengah jalan.

Tahapan Akad IMBT yang Harus Bapak/Ibu Pahami

Prosesnya runut, rapi, dan jelas.

Akad sewa

Ini langkah pertama. Bapak/Ibu dan Bank tanda tangan akad sewa (Ijarah). Di sini ditentukan berapa harga sewanya, berapa lama waktunya, dan untuk apa barang itu digunakan.

Perjanjian pemindahan kepemilikan

Ini dokumen terpisah atau klausal janji (Wa'ad). Bank berjanji: "Jika Bapak lancar bayar sewa sampai bulan ke-X, saya akan berikan barang ini."

Pembayaran berkala

Bapak/Ibu bayar tiap bulan. Ingat, ini uang sewa (ujrah), bukan angsuran utang. Rasanya sama, tapi "nyawanya" beda.

Apa Saja Hak dan Kewajiban Penyewa?

Sebagai penyewa, Bapak/Ibu wajib merawat barang. Jangan mentang-mentang sewa, motornya dipakai trabas hutan sampai hancur. Itu zalim namanya. Hak Bapak/Ibu adalah menggunakan barang itu dengan tenang tanpa gangguan.

Risiko IMBT yang Sering Dilupakan

Apa yang terjadi jika barang rusak bukan karena kesalahan Bapak/Ibu? Misalnya, rumah kena gempa atau motor cacat pabrik? Dalam Islam, kerusakan aset yang bukan kelalaian penyewa adalah tanggungan pemilik (Bank). Beda dengan kredit biasa, di mana kalau barang rusak, cicilan tetap jalan terus. Di IMBT, ada perlindungan syariah yang adil.

Kelebihan dan Kekurangan IMBT Dibandingkan Akad Lain

Tidak ada produk keuangan yang sempurna di dunia ini, kecuali sedekah. Ha ha ha. IMBT pun punya dua sisi mata uang.

Kelebihan IMBT

Fleksibel, ringan, dan syariah-compliant

Angsuran (biaya sewa) bisa dievaluasi. Bisa lebih murah di awal. Dan yang pasti, hati tenang karena terhindar dari dosa riba yang mengerikan itu.

Kekurangan IMBT

Risiko harga aset naik/turun

Kadang, total biaya yang dikeluarkan sampai akhir periode bisa jadi sedikit lebih mahal dibanding beli tunai (jelas, karena ada nilai waktu dan margin sewa). Selain itu, perpindahan kepemilikan butuh biaya administrasi lagi (balik nama) di akhir periode.

Contoh studi kasus nyata

"Saya pernah menangani klien, sepasang suami istri guru honorer. Mereka ambil motor pakai IMBT. Di bulan ke-10, suami sakit keras dan meninggal. Karena akadnya sewa, pihak lembaga syariah punya kebijakan khusus (biasanya dicover asuransi syariah) sehingga motor itu langsung dihibahkan ke istri tanpa perlu lunasin sisa sewa yang panjang. Itu momen yang sangat haru. Kemanusiaan dalam ekonomi syariah itu nyata."

Tips Memilih Produk IMBT yang Aman dan Sesuai Syariah

Jangan asal label "Syariah" langsung sikat. Bapak/Ibu harus jeli. Teliti sebelum membeli, itu prinsip emak-emak yang harus kita tiru.

Cek legalitas lembaga pembiayaan

Pastikan terdaftar di OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dan punya Dewan Pengawas Syariah (DPS). Kalau tidak ada DPS-nya, siapa yang jamin itu halal? Bisa-bisa cuma ganti istilah "Bunga" jadi "Margin" doang.

Pahami akad tertulis (hindari jebakan manis)

Baca. Baca. Baca. Apakah klausul perpindahan kepemilikannya jelas? Apakah itu hibah? Atau beli di akhir dengan harga Rp1? Pastikan tertulis.

Sesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan keluarga

Jangan paksa ambil mobil mewah pakai IMBT kalau gaji cuma cukup buat sewa motor. Hiduplah sesuai kemampuan, bukan sesuai kemauan tetangga.

Cara membandingkan skema IMBT dari beberapa lembaga

Minta simulasi tabel angsuran dari Bank A, B, dan C. Bandingkan total biaya akhirnya. Pilih yang paling masuk akal dan pelayanannya paling ramah.

Apakah IMBT Cocok untuk Bapak/Ibu? 

Setiap orang punya sepatu dengan ukuran berbeda. IMBT mungkin pas buat saya, tapi sesak buat Anda.

Untuk pelajar/mahasiswa

Sangat cocok untuk laptop atau kamera. Daripada minta orang tua beli cash memberatkan, sewa beli ini mengajarkan tanggung jawab bayar bulanan dari uang saku atau hasil kerja paruh waktu.

Untuk karyawan & pegawai

Cocok untuk KPR atau kendaraan. Gaji tetap membuat pembayaran sewa lancar, dan kepemilikan di akhir jadi "bonus" pensiun atau aset jangka panjang.

Untuk pemilik UMKM

Sangat direkomendasikan! Ini menjaga modal kerja tetap cair. Daripada uang mati di mesin, mending uang diputar untuk bahan baku, mesinnya sewa dulu.

Untuk keluarga muda yang baru membangun rumah tangga

Perabotan rumah tangga, kulkas, mesin cuci. Daripada paylater yang bunganya "menggigit", cari koperasi syariah yang punya skema IMBT elektronik. Hidup berkah, rumah tangga sakinah.

Kesimpulan 

Intinya begini, Bapak/Ibu. IMBT itu jalan tengah. Jembatan emas bagi kita yang ingin punya harta tapi takut dosa, atau bagi kita yang dompetnya belum tebal tapi butuh alat untuk bekerja. Mulai dari motor Pak Hasan sampai rumah impian keluarga muda, semua bisa diakomodasi.

Mengubah kebiasaan finansial itu memang berat. Rasanya seperti pindah rumah, capek angkat-angkat barangnya. Tapi, kepuasan batin saat memiliki aset yang didapat dengan cara halal, bersih, dan penuh berkah, itu rasanya luar biasa. Tidak ada rasa was-was saat menaiki kendaraan atau menempati rumah itu. Semoga, setelah memahami dan mungkin nanti menerapkan contoh Ijarah Muntahiya Bittamlik dalam kehidupan sehari-hari, pintu rezeki Bapak/Ibu semakin terbuka lebar. Yuk, mulai hijrah finansial pelan-pelan!

LihatTutupKomentar